cerpen kecil lelouch

Seorang pedagang gorengan lewat dan mampir kesebuah komplek perkantoran.
“Sepotongnya lima ratus rupiah !” katanya sumringah.
Dia, si mbok, yang telah menjadi langganan disana.

Dan tak lama, berhamburanlah para pekerja berdasi dengan seragam putih-putih dan bau harum pewangi.
Membeli dagangannya.
Makan sambil ngobrol.
Suasana yang rukun.
Dan meluncurlah beragam curhat dan keluh kesah susahnya hidup jaman sekarang.
Tentang bisnis yang macet,
target yang tak sampai,
anak yang bengal
kredit yang naik bunganya
bos yang jahat
dan seterusnya..

Si mbok cuman tersenyum.
Tak niat ia ikut berkeluh kesah.
Baginya pagi yang cerah sudah patut disyukuri
Apalagi dengan larisnya dagangan pagi ini.
Kesulitan hidup adalah biasa, bagi kami yang berbaur aroma jalanan.


Ath-Thulathaa’, Safar 1, 1430H
1 Imlek, 27 Januari 2009

Blogged with the Flock Browser
Januari 27th, 2009 at 1:18 am | Comments & Trackbacks (5) | Permalink

Bermula dari turunnya hujan segar di malang, yang merubah suasana garing menjadi suejuk dan menyegarkan. Nuansa alam mendadak terasa begitu romantis.

Dan kemudian membuatku “terbius dekapan mesra aroma Dji Sam Soe dan dinginnya hujan kota Malang, ditemani semerbak wangi tanah yang basah tersiram hujan..

Pikiran melayang ke kota kelahiran, Surabaya.

Gimana ya Surabaya ? Ah, jadi ingin merasakan Curahan Hujan Untuk Kota Surabaya.

Ya.. bagiku, hujan memang romantis sekaligus mellow.

Namun saat teringat bila Surabaya selalu mati lampu dan banjir, sesaat setelah hujan pertama turun. Rasanya koq pengen … :D

Apalagi saat eneng ini bilang “surabaya dingin… yak, surabaya hujan!!! tapi listriknya pada mati

Hehe.. Jadi teringat “film action yang di dubbing dengan bahasa Suroboyoan

***

Jadi, demikianlah ceritanya. :D . Mengingatkan saya akan dua buah film lama. Film indie pendek mengenai grammar Suroboyoan [ Ep. 1 disini  dan Ep. 2 disini ]dari wak ikin, studio gatotkaca.
(Warning : Khusus buat dewasa dan berpotensi menyebabkan disorientasi lambe :D )

Oktober 9th, 2008 at 8:19 am | Comments & Trackbacks (1) | Permalink

Dua mega

Disuatu hari, terjadi kemacetan luar biasa, diseputar kediaman Ciganjur.

“He.. itu tolong di cek, kenapa koq ada kemacetan di depan kediaman kita..”

“Baik Gus…”

Dan sang cantrik pun berkelebat kedepan kediaman Ciganjur, mencari tahu, apakah gerangan yang sedang terjadi.

Lima menit kemudian, yang bersangkut telah kembali menghadap. Dengan laporan teraktual tentunya.

“Lapor Gus.. penyebabnya ternyata adalah adanya kegiatan petugas Telkom.”

“Ngapain mereka di sana ??”

“Mereka sedang upgrade jalur jaringan, Gus..”

“Lha kenapa ? Emang jaringannya rusak ?”

“Bukan gitu Gus, katanya mau upgrade kapasitas. Biar lebih cepet. Dulu cuman 1 mega. Sekarang mau dibuat biar bisa 2 mega…”

“Udah,.. udah… suruh mereka berhenti. Lha wong saya satu Mega aja udah repot koq mau dibuat dua Mega…Gimana sih ??”

Oktober 6th, 2008 at 11:34 pm | Comments & Trackbacks (6) | Permalink

selama masih ada mentari
akan selalu ada pelangi
setelah hujan mendung mereda
warna apa yang kau suka ?
kuingin menjadi langit biru
dimana mentari, pelangi, rembulan dan mendung berpadu

karena langit biru
tak akan lupa pada sang angin rindu
yang tersenyum membisikkan cinta
didalam pelukan damai sang pemilik waktu..

(Lelouch - Surabaya, 10 September 2008, 13:10)

September 10th, 2008 at 1:06 pm | Comments & Trackbacks (2) | Permalink